Mengenali dan Mengatasi "School Refusal" pada Anak: Ketika Anak Mogok Sekolah
Ayah Bunda yang dirahmati Allah,
Pagi hari yang biasanya lancar tiba-tiba berubah menjadi drama. Anak mengeluh sakit perut, pusing, atau menangis keras menolak berangkat sekolah. Jika kondisi ini terjadi berulang dan bukan karena sakit fisik yang jelas, bisa jadi anak mengalami "School Refusal" atau keengganan untuk bersekolah yang dipicu oleh kecemasan.
Berbeda dengan bolos sekolah, anak yang mengalami school refusal biasanya merasa sangat tertekan dan cemas untuk pergi ke sekolah, hingga menunjukkan gejala fisik akibat psikologisnya.
Apa Saja Penyebab School Refusal?
- Kecemasan akan Perpisahan (Separation Anxiety): Terutama pada anak kelas bawah yang masih sulit berpisah dari figur utama pengasuhnya.
- Masalah Sosial: Merasa diteror (bullying), tidak punya teman, atau konflik dengan teman sebaya.
- Tekanan Akademik: Takut gagal, tidak mengerti pelajaran, atau tekanan dari guru/tuntutan nilai.
- Peristiwa Traumatis: Misalnya pernah dimarahi guru di depan kelas, mengalami kecelakaan di perjalanan sekolah, atau hal memalukan lainnya.
- Perubahan Besar: Pindah sekolah, naik kelas dengan guru baru, atau masalah keluarga di rumah.
Bagaimana Tanda-tandanya?
- Mengeluh sakit (perut, kepala, mual) yang membaik jika diizinkan tetap di rumah.
- Menangis, marah, atau tantrum saat waktu sekolah tiba.
- Memohon atau merengek untuk tidak pergi.
- Perilaku tersebut berlangsung selama berminggu-minggu, bukan hanya sekali dua kali.
Langkah Bijak untuk Orang Tua:
- Jangan Langsung Marah atau Menghakimi. Ajak anak bicara dari hati ke hati dengan tenang. Tanyakan, “Adek merasa takut/tidak nyaman dengan apa di sekolah?” Gunakan pendekatan terbuka dan hindari pertanyaan yang langsung menyudutkan.
- Buka Komunikasi dengan Guru/Wali Kelas. Ceritakan kondisi anak secara objektif tanpa menyalahkan pihak manapun. Guru dapat menjadi mata dan telinga Anda untuk mengamati interaksi sosial dan akademik anak di kelas.
- Cari Akar Masalahnya Bersama. Apakah ada PR yang terlalu sulit? Apakah ada teman yang mengambil barangnya? Bantu anak mengidentifikasi sumber kecemasannya.
- Buat Rencana Kembali ke Sekolah secara Bertahap. Misal, hari pertama hanya sampai gerbang, hari kedua sampai kelas setengah hari, dst. Kerjasama dengan guru BK (Bimbingan Konseling) sangat penting.
- Bangun Mindset Positif tentang Sekolah. Ingatkan pada hal-hal menyenangkan: bertemu teman baik, pelajaran olahraga, atau kegiatan ekstra yang ia sukai.
- Tetap Tegas dan Konsisten. Setelah mengetahui masalahnya dan memberikan dukungan, tegaskan bahwa sekolah adalah kewajiban. Tetaplah mengantar anak ke sekolah dengan penuh kasih sayang dan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya.
- Cari Bantuan Profesional jika Perlu. Jika kecemasan anak sangat parah dan berkepanjangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak.
School refusal adalah cry for help (seruan minta tolong) dari anak. Tugas kita sebagai orang tua adalah menjadi detective yang sabar untuk menemukan akar masalahnya, lalu menjadi pendukung utama yang membantunya kembali percaya diri. Dengan kerjasama antara rumah dan sekolah, insya Allah fase ini dapat dilewati.
Semoga kita diberikan kesabaran dan kebijaksanaan dalam mendampingi buah hati.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Arkan 31 Dec 2025 - 16:06
Artikel yang bagus, terima kasih sudah memberikan wawasan yang bagus