5 Cara Membangun Komunikasi Positif dengan Anak Usia Sekolah Dasar
Assalamu'alaikum Ayah dan Bunda,
Masa sekolah dasar adalah periode krusial di mana anak mulai banyak berinteraksi dengan dunia luar. Di saat yang sama, mereka sangat membutuhkan sandaran dan pemahaman dari orang tua di rumah. Komunikasi yang positif menjadi kunci utama membangun ikatan yang kuat dan mendukung perkembangan emosi serta sosial anak.
Namun, seringkali kita terjebak dalam komunikasi satu arah: menyuruh, menasihati, atau bertanya sepintas. Berikut 5 cara membangun komunikasi positif yang dapat Ayah/Bunda praktikkan:
1. Jadilah Pendengar Aktif, Banyak "Dengar" Daripada "Bicara"
Saat anak bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda. Tatap matanya, tunjukkan ekspresi tertarik, dan berikan respon seperti, “Wah, seru sekali ya ceritanya,” atau “Lalu, bagaimana perasaan kamu setelah itu?” Hindari memotong cerita atau langsung memberikan penilaian. Dengan menjadi pendengar yang baik, anak merasa dihargai dan akan lebih terbuka di masa depan.
2. Gunakan Kalimat "Aku" daripada "Kamu" yang Terkesan Menyalahkan
Saat ada masalah, hindari kalimat yang membuat anak defensif. Alih-alih mengatakan, “Kamu kenapa sih kamarnya selalu berantakan?”, coba ganti dengan, “Ayu, Ibu khawatir kalau mainan berserakan nanti bisa hilang atau terinjak. Yuk, kita rapikan bersama.” Kalimat "Aku" lebih menggambarkan perasaan Anda tanpa menyerang pribadi anak.
3. Bangun Ritual Komunikasi Khusus
Ciptakan momen khusus untuk berbincang tanpa gangguan gawai atau TV. Misalnya, 15 menit sebelum tidur untuk bertanya tentang "hal terbaik dan tersulit" hari ini, atau ngobrol ringan saat menyiapkan sarapan. Ritual ini memberi anak rasa aman dan pasti bahwa ia punya waktu khusus untuk didengarkan.
4. Validasi Perasaan Mereka, Meski Masalahnya Terlihat Kecil
Jangan pernah meremehkan perasaan anak. Ketika ia sedih karena pensilnya patah atau marah karena temannya tidak mau bermain, katakan, “Ibu/Ayah ngerti kamu kecewa. Wajar kok merasa seperti itu.” Validasi emosi adalah langkah pertama sebelum mengajaknya mencari solusi. Ini mengajarkan anak untuk mengenali dan mengelola emosinya dengan sehat.
5. Komunikasikan Aturan dengan Cinta dan Konsistensi
Anak butuh batasan yang jelas. Saat menetapkan aturan (seperti batasan screen time), jelaskan alasannya dengan kasih sayang. “Kita batasi main HP supaya mata kamu sehat dan kamu punya waktu untuk main sepeda atau baca buku kesayangan.” Yang terpenting, konsisten dengan aturan tersebut, dan orang tua juga memberi contoh.
Membangun komunikasi positif adalah proses, bukan hasil instan. Butuh kesabaran dan latihan terus-menerus. Namun, investasi waktu dan perhatian ini akan membuahkan hubungan yang penuh kepercayaan, di mana anak tumbuh dengan percaya diri bahwa ia dicintai dan didengarkan.
Semoga tips ini bermanfaat. Mari kita mulai dari percakapan kecil hari ini.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Belum ada komentar.